Friday, August 22, 2008

Menjawab Tantangan Pendidikan Global Menuju World Class University

Menjawab Tantangan Pendidikan Global Menuju World Class University

Universitas Kelas Dunia atau lebih populer dengan istilah “World Class University” menjadi trend dewasa ini, khususnya di kalangan perguruan tinggi Indonesia. Istilah ini semakin bergema terutama sejak pemerintah Indonesia mengeluarkan Surat Keputusan (SK) mengenai otonomi bagi beberapa perguruan tinggi negeri (UI, UGM, ITB, IPB) di Indonesia. Hampir semua perguruan tinggi tersebut secara tegas maupun tersirat mencantumkan visinya menuju “World Class University”. Untuk mencapai visi sebagai universitas kelas dunia bukanlah mudah seperti membalikkan telapak tangan saja. Selain persoalan teknis yang perlu dikonsep secara professional juga perlu ada pemahaman dan kajian mendalam mengenai kondisi objektif dan realitas kampus itu sendiri, sehingga diharapkan dapat menciptakan strategi yang efektif untuk mewujudkan visi tersebut.
Strategi yang tepat untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi di Indonesia. World class university tampaknya menjadi syarat utama bagi Indonesia jika ingin bersaing dengan perguruan tinggi luar negeri. Ukuran yang sering dipakai untuk menentukan peringkat perguruan tinggi di dunia adalah survei yang dikenal dengan The Times Higher Education Supplement (THES). Setidaknya hampir 13.000 perguruan tinggi masuk dalam survei ini, dan Indonesia telah memperlihatkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2003, hanya tiga perguruan tinggi yang masuk 500 besar, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Indonesia (UI). Meningkat pada 2006, masuk lagi Universitas Diponegoro (Undip) dan pada 2007 bertambah lagi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Airlangga (Unair). Dengan fakta itu, sebenarnya kualitas pendidikan tinggi kita mengalami kemajuan. Dengan kata lain perguruan tinggi di Indonesia mampu bersaing dengan Perguruan Tinggi Luar Negeri.
Beberapa kriteria world class university berdasarkan dari pemaparan Prof.Dr.Tridoyo Kusumastanto selaku Ketua Komisi D Norma dan Kajian Strategis, SA-IPB diantaranya adalah 40 % tenaga pendidik bergelar Ph.D, publikasi internasional dua papers per staff per tahun, jumlah mahasiswa pasca 40% dari total populasi mahasiswa (student body), anggaran riset minimal US$ 1300/staff/tahun, jumlah mahasiswa asing lebih dari 20%, dan Information Communication Technology (ICT) 10 KB/mahasiswa. Kriteria tersebut tentu tidak 100% sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini yang sedang memperjuangkan anggaran pendidikan yang memadai. Namun ukuran-ukuran tersebut penting sebagai dasar bagi referensi kesejajaran universitas di Indonesia dengan universitas lainnya yang bertaraf internasional.
Sebagai perguruan tinggi yang terpandang di Indonesia Timur, UNM (Universitas Negeri Makassar) juga tak ingin ketinggalan untuk meraih gelar “World Class University”. Namun apakah UNM yang memiliki potret tersendiri di mata masyarakat, mampu mencapai kelas tersebut? sebuah argument yang menarik untuk diilhami.

Langkah awal: Merubah Paradigma
Menuju World Class University 2025 seperti yang dicanangkan oleh Prof. Arismunandar (Rektor Universitas Negeri Makassar) sebagai Strategi Jangka Panjang Perguruan Tinggi, menjadi perbincangan yang sangat menarik untuk dibahas. Sebuah tantangan dan sekaligus keputusan yang inovatif. Mengawali langkah dengan visi yang berbobot ini tentunya sangat sulit diwujudkan tatkala elemen-elemen kampus UNM tidak menyertai dan berbulat tekad untuk menjadikan UNM sebagai kategori World Class Universiy . Tidak dipungkiri masyarakat umum baik kampus UNM sendiri telah terstigma dengan potret buram kampus UNM. Opini miring publik juga tidak sedikit terbentuk lantaran latar belakang kampus UNM yang sedikit mengecewakan, sehingga terbentuk pula pola pikir yang pesimis untuk menuju “world class university”. Statemen World Class University 2025 ini menimbulkan banyak perspektif baru terhadap kampus UNM, baik dari civitas kampus maupun luar kampus. Hal ini tentunya merupakan hambatan besar untuk mewujudkan impian jangka panjang tersebut.
Paradigma pesimis inilah yang perlu diubah dan perlu dicerna ulang. Menuju universitas kelas dunia 2025 bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan oleh UNM. Kilas balik tentang UNM (yang dulunya IKIP) dua puluh tahun lalu. Kampus pencetak ‘Oemar Bakri’ ini merangkak untuk mencapai kemajuan seperti hari ini. Step by step kampus orange ini berkembang dan tentunya tidak lepas dari sebuah target yakni kesejajaran mutualitas, kualitas, dan profesionalisme sebagai salah satu perguruan tinggi di Indonesia Timur dengan perguruan tinggi yang lain.
Memutuskan untuk menuju ke universitas kelas dunia, berarti siap bersaing dengan perguruan tinggi lainnya. Kemampuan berdaya saing yang dimaksud disini tidak diukur dengan sejarah masa lalu, baik atau buruk imej kampus tersebut, akan tetapi berdasarkan kriteria tersendiri; (1) Research Quality, (2) Graduated Employability, (3) International Outlook, (4) Teaching Quality. Keempat-empat kriteria penilaiaan inilah yang perlu dievaluasi. Selain itu unsur yang paling penting dan utama dalam mencapai tingkatan tersebut adalah Etika Akademik yang mengandung nilai moralitas (sistem nilai baik dan buruk) harus dimiliki oleh tenaga pendidik dan kependidikan dalam melaksanakan kegiatan di bidang akademik. Dalam pengembangannya tentu saja diperlukan sikap yang optimis oleh jajaran-jajaran, elemen-elemen kampus itu sendiri beserta pendukung-pendukung lainnya.
Paradigma yang menjatuhkan dan sifatnya tidak mendukung program menuju universitas kelas dunia tahun 2025 ini, perlu diantipasi. Sudah saatnya perubahan paradigma terhadap kampus UNM dilakukan. Berpikir kedepan dengan moment menuju world class university 2025, akan mengajak segenap civitas ekademik memicu petualangan intelektualitas.

Menyadari Dinamika Era Globalisasi
Dalam beberapa tahun terakhir ini, topik globalisasi juga memasuki wacana akademis dan menjadi fokus diskusi dalam dunia pendidikan. Sebagian fenomena globalisasi juga mulai muncul dalam dunia pendidikan, termasuk di Indonesia. Tentu saja dinamika globalisasi mengandung berbagai implikasi bagi pendidikan dan nasionalisme baru Indonesia.
Era globalisasi merupakan alasan yang jelas mengapa UNM mencanangkan world class university 2025 ini. Tuntutan perkembangan zaman yang tidak memberi pilihan selain merancang masa depan UNM yang terkadang diluar akal pemikiran, memaksa dan mengharuskan adanya pembaharuan. Dalam konteks globalisasi yang dimaksud adalah menerima realitas pasar bebas. Berkompetensi diruang lingkup nasional bukan lagi sebuah prestasi yang akan dibanggakan melainkan bagaimana UNM bisa sejajar dengan perguruan tinggi internasional lainnya.
Sebuah realitas yang perlu dicermati. Pada tahun 2002 lalu, Indonesia sudah mulai berkompetensi dengan Negara-negara kawasan ASEAN (AFTA) melalui beberapa espek kehidupan termasuk di bidang pendidikan, dan paling lambat tahun 2010 akan memasuki pasar bebas negara industry di kawasan Asia- Pasifik (APEC). Nah! tantangan inilah yang harus kita sadari dan pahami. Dalam konteks pendidikan, perlu disadari bahwa perguruan tinggi di area lokasi sebuah daerah memiliki peran andil dalam menciptakan generasi yang bisa bersaing pada taraf global. Peningkatan kualitas pendidikan harus sesuai dan seiring dengan kemajuan ekonomi dan aspek kehidupan lainnya yang mengarah ke serba modern (global).
Krisis multidimensional yang sedang melanda UNM saat ini disertai dengan berbagai perubahan di berbagai bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni telah menciptakan tantangan baru bagi perguruan tinggi di UNM. Karena itu reaksi perguruan tinggi UNM seharusnya tidak hanya melalui berbagai kebijakan pada tingkat nasional, tapi yang amat penting dan strategis adalah pada tingkat perguruan tinggi terhadap perkembangan dilingkup internasional. Di sinilah letak pentingnya visi perguruan tinggi secara matang direncanakan dan diimplementasikan. Visi “UNM menuju world class university 2025” merupakan visi yang segar dan saatnya para elit kampus menggodok ide-ide, inovasi-inovasi, baru yang bisa menyukseskan UNM menjadi universitas kelas dunia.
Dinamika globalisasi, dan pusaran neo-liberalisme tidak bisa dibendung lagi dan melanda dunia pendidikan, sehingga UNM juga tidak bisa lepas dari jeratan era globalisasi tersebut. Jarum jam sudah tidak bisa diputar kembali dan arus globalisasi sudah harus dilewati. Eksistensi UNM sebagai sebuah perguruan tinggi di Indonesia juga harus mampu mempersiapkan anak-anak bangsa untuk menghadapi masa depan dan menjadikan bangsa ini bermartabat di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Masa depan yang selalu berkembang menuntut pendidikan untuk selalu menyesuaikan diri dan menjadi lokomotif dari proses demokratisasi dan pembangunan bangsa.

International Networking
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘internasional’ menyatakan bangsa-bangsa atau negeri-negeri selurh dunia. Maka jelas, istilah ini merujuk pada cakupan wilayah. Namun dalam konteks universitas, taraf internasional tentu saja tidak hanya mencakup wilayah, tapi kualitas. Kualitas tidak hanya merujuk pada mutu lulusan, tapi juga mutu layanan, fasilitas dan lain-lain. Ukuran kualitas dapat dilihat dari indikator untuk menentukan ranking universitas.
Dalam konteks menuju UNM ‘world class university 2025’ . Pihak Universitas harus memperluas jaringan baik dalam skala nasional maupun internasional. Jaringan yang dimaksud adalah kerjasama-kerjasama yang saling menguntungkan (profit) atau dengan istilah lain take and give. Jaringan berskala internasional perlu dilakukan karena hal ini merupakan referensi yang sangat membantu UNM untuk mencapai kelas dunia tersebut. Berbagai macam kerjasama yang bisa lakukan oleh universitas, termasuk kerjasama terhadap pengadaan guru asing dan mahasiswa asing.
Sebagai sebuah institusi perguruan tinggi yang menelorkan tenaga pendidik, UNM harus mampu berdaya saing dengan kehadiran tenaga pengajar asing. Memandang sisi positif kehadiran tenaga pengajar asing lebih aman di banding terus-menerus berprasangka negatif. Pemanfaatan sisi positif kiranya perlu diperhatikan oleh penentu kebijakan universitas. Mendeskripsikan pemanfaatan tenaga pengajar asing disini bisa diartikan sebagai salah satu bentuk pemanfaatan jasa atau kasarnya ‘pencurian ilmu’. mengapa tidak. Selama ini, civitas kampus khususnya selalu berstigma bahwa kehadiran guru asing di kampus UNM karena ingin merampas apa yang kita miliki, atau tenaga pengajar alias dosen lokal tidak berkualitas dan semacamnya. Kembali lagi pada pola paradigma yang perlu di renovasi. Negative thinking seperti inilah yang akan menghambat tujuan UNM menuju kelas dunia nantinya. Sudah saatnya segenap civitas kampus, mahasiswa, dosen, staf-staf dan seluruh elemen kampus mulai untuk tidak bersaing secara lokal dan nasional saja, tetapi bersainglah secara internasional, dan yang paling penting adalah bersaing secara sportif. Kehadiran tenaga pengajar asing bisa dijadikan motivasi bagi dosen-dosen lokal untuk mempermantap kapabilitas pengajaran dan skill mereka.
Begitu pula dengan penerimaaan mahasiswa asing. Salah satu kriteria universitas kelas dunia ditentukan berdasarkan jumlah mahasiswa asing lebih dari 20%. Maka dari itu, mau atau tidak mau, UNM harus membuka peluang kepada mahasiswa luar negeri untuk bergabung dan menerima hakikat bahwa mahasiswa local akan duduk di bangku yang sama untuk belajar. Tentunya hal ini tidak lepas dari konektivitas/jaringan antar sekolah-sekolah, universitas-universitas luar negeri.
Namun jauh sebelumnya, pihak UNM harus mempersiapkan penawaran jurusan-jurusan yang sifatnya internasional. Menurut hemat penulis UNM sudah memiliki jurusan-jurusan yang bisa di unggulkan. Hanya perlu di kembangkan dan lengkapi dengan berbagai macam kekurangan. Seperti, pembenahan fasilitas, meng up date kurikulum yang ada, menggunakan metode pengajaran yang trend dan sesuai dan berbagai macam persoalan teknis yang perlu diamati dan dibenahi sejak dini.
Intinya, jaringan internasional sangat penting guna mengakses dan mempromosikan UNM ke mata dunia. Jaringan yang dimaksud tidak hanya melalui akses maya tetapi jaringan konkrit secara nyata juga perlu, misalnya kerjasama dengan perusahaan-perushaan, LSM-LSM, Institut-institut dan berbagai macam sektor.Tentunya, tidak lepas dari ketentuan-ketentuan yang memang sudah ditetapkan, dan UNM memang harus siap dengan segala macam kemungkinan yang bisa menghambat visi “world classs university 2025”.

Pembelajaran Berbasis ICT
Juga merupakan salah satu kriteria world class university adalah kecanggihan Information Communication Technology (ICT) yang mampu memfasilitasi seluruh elemen kampus. Hal ini merupakan pr (pekerjaan rumah) yang harus dibenahi sejak dini oleh pihak Universitas Negeri Makassar (UNM) untuk menuju universitas kelas dunia 2025 nanti. Pengadaan fasilitas Kurang lebih tujuh belas tahun kedepan semestinya merupakan jangka waktu yang cukup memberi peluang kepada UNM untuk mengadakan fasilitas ICT yang lebih canggih, karena UNM sudah memiliki fasilitas multimedia teknologi yang terakui di perguruan tinggi di Indonesia Timur. Hanya pengembangan kuantitas dan kualitas ICT-nya saja. Dengan adanya fasilitas ICT yang canggih akan pasti mendukung proses pembelajaran yang berkualita dan juga mendukung lahirnya generasi kampus yang berkualitas juga.
Perkembangan ICT telah memberika pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pengajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembnagnya penggunaaan ICT, akan tejadi lima pergeseran dalam proses pembelajaran yakni; (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang kkelas ke di mana dan kapan saja, (30 dari kertas ke on line, (4) fasilistastik ke fasilitas jaringan kerja, (5) dari waktu siklus ke wakktu nyata.
Pembelajaran berbasis ICT bukan lagi suatu konsep baru, namun perlu disadari bahwa jika tidak dimulai dari sekarang oleh UNM, maka 20 tahun kedepan akan menjadi hal yang baru bagi kita dan ketika itu UNM sudah jauh ketinggalan. Oleh karena itu. penerapan pembelajaran berbasis ICT harus di mulai dari sekarang. Mengatasi berbagai problematika dalam pengajaran untuk mengejar mutualitas pengajaran sudah pasti akan terjawab melalui pembelajaranb ICT berhubung karena media pembelajaran ICT memang merupakan metode yang ampuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, kekhawatiran terhadap dosen proyek istilahnya; dosen yang selalu keluar ke daerah-daerah dan menambah jam perbelajaran di luar kampus (jam terbang) atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk menambah penghasilan selain mengajar di kampus, akan bisa teratasi melalui media ICT tadi. Dalam konteks ini dosen mata kuliah bersangkutan dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan mahasiswa. Demikian pula mahasiswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet.
Keuntungan pembelajaran dengan ICT, kelas menjadi lebih "leaner centered" (Anson dalam Hall & Elliot, 2003). Teknologi dapat memberikan pengalaman belajar yang unik (Driscoll, 2002). Selain itu, akan menghasilkan lulusan yang mampu memecahkan masalah (Mc Griff, 2002). Pembelajaran dengan menggunakan ICT akan bermanfaat untuk mahasiswa, pendidik, bahkan masyarakat sekalipun. Berbagi ide dalam pendidikan dan pembelajaran. Melaksanakan pengajaran jarak jauh dan mendorong terjadinya pembelajaran sepanjang hayat.
Ketika pembelajaran ICT berjalan mulus akan melahirkan generasi yang berkualitas tentunya. Gagasan menuju universitas kelas dunia tidak cukup dengan orang-orang yang pintar dan berkualitas saja tetapi segala bentuk pengetahuan dan kualitas intelektualitas baik mahasiswa maupun dosen harus di tuangkan dalam prakarsai yang ilmiah. Kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi ini merupakan esensi yang wajib di tingkatkan oleh UNM dalam menuju impian 17 tahun ke depan. Menuangkan gagasan dan pemikirannya ke dalam bentuk publikasi karya ilmiah. Untuk melakukan kegiatan publikasi ilmiah, dapat ditempuh berbagai upaya, di antaranya membudayakan kegiatan keberaksaraan di kalangan masyarakat akademik perguruan tinggi. Otomatis birokrasi UNM harus siap menyediakan anggaran yang besar untuk pelaksanaannya. Selain itu even-even keilmiahan perlu diprogramkan secara kontiniu dan berkesinambungan dengan visi menuju world class university 2025.

Strategi dan Perencanaan
UNM menuju universitas kelas dunia 2025 merupakan suatu visi yang luar biasa menurut penulis. Sebagai mahasiswa, penulis bangga terhadap gagasan ini. Hakekat yang perlu dipahami sekarang ini adalah bagaimana langkah-langkah yang harus diambil dan bagaimana merealisasikan visi tersebut. Sebagai penentu kebijakan, birokrasi UNM perlu fokus pada kebijakan yang strategis dan visioner serta tidak terjebak untuk melakukan tindakan instrumental dan teknis saja. Perencanaan dini dan jitu perlu kiranya dimulai dari sekarang, dengan mempertimbangkan segala kemungkinan-kemungkinan yang bersifat fatal.
Visi UNM ke depan ini perlu di publikasikan dan disosialisasikan secara detail kepada masyarakat kampus khususnya dan masyarakat luar kampus pada umumnya, Persamaan persepsi, visi dan misi sebagai sebuah kesatuan dalam perguruan tinggi perlu dipahami bersama. agar supaya tidak terjadi perbedaan dan penyelewengan dalam pencapaian visi ini. Pemahaman terhadap konteks universitas kelas dunia perlu disadari, terutama kriteria-kriteria yang harus dicapai, antaranya; (1) Research Quality (2) Graduate Emploability (3) International Outlook, dan (4) Teaching Quality. Keempat-empat kriteria ini harus di buktikan untuk mendapat gelar “world class university 2025”,
Target awal dalam memulai petualangan menuju universitas kelas dunia 2025 harus dibarengi dengan sebulat tekad yang kuat. Salah satunya masyarakat kampus harus menyadari hakekat era globalisasi yang menantang masa depan bangsa ini, sehingga sebagai sebuah perguruan tinggi yang memiliki andil dalam pencetak bangsa yang mampu bersaing di tataran global nanti mewajibkan UNM untuk harus bergeser ke arah pendidikan yang berwawasan era global. Dari perspektif kurikuler, pendidikan berwawasan global berarti menyajikan kurikulum yang interdidipliner, multidisipliner, dan transdisipliner. Sementara, perspektif reformasi, pendidikan berwawasan global menuntut kebijakan yang berada diantara kebijakan sosial dan kebijakan berdasarkan mekanisme pasar.
Berangkat dari perubahan-perubahan inilah, sehingga terjadi keterbukaan, persaingan, dan penerimaan secara global, misalnya, tenaga pengajar asing, mahasiswa asing dan berbagai aspek kerjasama secara mendunia akan terjadi. Tentunya, menuntut sebuah jaminan-jaminan seperti SDM (sumber daya manusia); dosen-dosen yang professional dan staff-staff yang berestetik, fasilitas, keunggulan bidang studi, pembayaran SPP yang sesuai dan keamanan yang utama akan tawarkan oleh UNM. Bahkan hal yang sangat sederhana sekalipun tak bisa disepelekan karena bisa jadi sangat menentukan demi terealisasinya sebuah perguruan tinggi yang unggul dan setaraf dengan universitas kelas dunia lainnya.

No comments: