Detik-detik terakhir menyandang predikat anak sekolah menengah telah berakhir bagi mereka yang lulus, sumringah tak terkira menyelimuti kebahagian atas kesuksesan melewati UAN (Ujian Akhir Nasional). Ada yang menangis karena lulus, ada yang tertawa sakit karena gagal. Di tengah kota, pinggir kota maupun di pelosok desa gempar dengan pengumuman kelulusan UAN pertengahan Juni lalu. Para orang tua tentunya sangat bahagia dengan kelulusan sang buah hati. Namun tidak semua tawa dan kegembiraan tercurahkan sepenuhnya pada moment itu. Lulus UAN berarti akan ada lagi rencana atau planning yang akan disusun oleh para orang tua untuk membantu sang buah hati meraih masa depannya.
Disisi lain tentunya instistusi-institusi, Perguruan-Perguruan Tinggi (PT) baik negeri maupun swasta telah siap menerima kedatangan para lulusan UAN dengan berbagai ragam penyambutan. Perguruan Tinggi yang bergensi sudah pasti pula mendapat posisi yang paling banyak diminati oleh tiap calon mahasiswa. Adapula yang hanya memilih sesuai keinginan orang tuanya, bahkan ada yang hanya pasrah dengan pilihan yang kurang diminati agar bisa lulus masuk ke Perguruan Tinggi pilihan mereka. Soal kapabilitas dan kemampuan bukan lagi ukuran untuk menentukan di jurusan apa, perguruan apa yang cocok.
Berbagai macam level dan jalur yang bisa dipilih oleh mantan siswa tersebut, namun yang sangat familar adalah SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dulunya dan kini menjadi SNMPTN, (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Intinya pada kesempatan ini setiap orang yang lulus UAN bisa berkesempatan untuk mengikuti ujian ini. Bermacam alasan pula mengapa mereka mimilih jalur ini, SNMPTN ini hanya sedikit dari banyaknya jalur untuk masuk ke perguruan dan lebih mengkhusus kepada PT Negeri. Apapun alasannya iming-iming gelar sarjana atau sederajat tentunya menyemangati para lulusan UAN untuk berlomba-lomba mengadu nasib pada tes kemarin. Segenap cara dilalui, uang tak sedikit menjulur keluar dari kantong-kantong para orang tua, yang pastinya mereka menanam harapan kelak uang itu akan kembali dan si anak akan mendapat pekerjaan yang layak.
Sayang seribu sayang, kehadiran instansi-instansi, lembaga-lembaga dan perguruan tinggi baik swasta maupun negeri, seakan-akan hanyalah wadah penampungan orang-orang yang berhasrat untuk berhasil kelak. Realitasnya toh! Pengangguran Sarjana semakin banyak saja. Ribuan perguruan tinggi yang tiap tahun mencetak sarjana yang pada akhirnya juga menjadi penganggur. tentunya kondisi ini tak lepas dari dunia pendidikan di Indonesia, seperti yang pernah diungkapkan oleh Abdul Malik Fadjar (Mendiknas tahun 2001) mengakui kebenaran penilaian bahwa sistem pendidikan di Indonesia adalah yang terburuk di kawasan Asia. Begitu pun dengan hasil survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang menyebutkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia terburuk di kawasan Asia, sehingga diklaim bahwa kondisi Sumber Daya manusia Indonesia merupakan yang paling terburuk. Kondisi ini sampai saat ini masih sedang terjadi dan menjamur di bumi Indonesia, dan tentunya hal ini tidak telepas dari kebijakan-kebijakan, sistem yang berlaku.
Penerimaan MABA perlu ditinjau ulang
Secara umum indikator penyebab pengangguran tidak hanya berkutat pada pada persoalan derasnya pertumbuhan penduduk, kemiskinan, sempitnya lapangan kerja, kondisi ekonomi, dan lain sebagainya. Namun cenderung disebabkan karena kualitas pendidikan yang masih memprihatinkan. Khususnya pada jenjang pendidikan perguruan tinggi. Tentunya kondisi ini tak lepas dari aturan dan kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap sistem pendidikan di Perguruan Tinggi yang terkesan carut marut dan kurang profesional. Yang ujungnya Perguruan Tinggi seakan di jadikan lumbung calon pengangguran, maka tak heran jika ada lelucon tentang “Sarjana Pengangguran" sering menjadi buah bibir masyarakat dan ketika ditanyapun mereka (lulusan sarjana) tanpa segan mengatakan kalimat tersebut. Realitas ini sudah sepantasnya dijadikan bahan refleksi oleh pemerintah, segenap elemen masyarakat, dan para birokrat guna mencari alternatif terbaik terhadap pesoalan yang ada.
Berawal dari penerimaan Mahasiswa Baru (MABA), dimana sebelumnya mereka harus mengikuti tes SNMPTN. Menurut hemat penulis tes ini sangatlah minim penilaiannya terhadap kecerdasan seseorang. Tes yang hanya dilaksanakan selama 2 hari ini mampu dijadikan patokan terhadap kemampuan seseorang. Bukan kandungan tes ini yang tidak baik namun perlu direvisi ulang terhadap pelaksanaan tes tersebut. Cakupan pada tes SNMPTN sangat sempit, kiranya tes ini yang dijadikan dasar. Suatu hal yang sangat digampangkan untuk masuk ke perguruan tinggi, misal saja, tes untuk masuk ke jurusan bahasa Inggris, mereka hanya harus di tes secara tertulis saja dalam tes SNMPTN sedangkan jelas-jelas kemampuan komunikatif sangat perlu untuk masuk ke jurusan ini. Mengapa tidak ada tes semacam tes TOEFL yang sering kita dengar ketika ingin lanjut pendidikan ke luar negeri. Mungkin bukan TOEFL namanya, tapi yang jelas ada tes untuk menguji kemampuan komunikatif atau secara lisan. Karena PT bukanlah wadah untuk memulai sebuah kemampuan tapi lebih kepada pengembangan sebuah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk menciptakan manusia menjadi professional pada bidangnya. Maka tidak heran jika tidak sedikit mahasiswa bahasa Inggris yang meskipun telah bertahun-tahun kuliah namun masih saja tidak fasih dalam berbahasa Inggris, karena dasar untuk lulus di jurusan itu saja tidak ada. Sehingga ketika selesai dari jurusan itu dan mendapat gelar sarjana pun tidak mampu mengaplikasikan ilmu tersebut, dan tidak dapat diterima di instansi manapun untuk bekerja, maka bertambahlah jumlah sarjana pengangguran.
Lahan Bisnis
Nah inilah salah satu contoh dari sekian banyak personil dan juga jurusan yang mengalami hal yang sama. Kemampuan dan intelegensi serta kecakapan yang memang sudah ada dan harus dimiliki sebelum duduk di PT apapun. Namun sayang kondisi semacam ini bukan untuk mencari solusi dan alternatif terbaik yang diberikan, malah di tengah gejolak permasalahan semacam ini dijadikan peluang bisnis yang subur.Menerima MABA dalam jumlah besar bearti uang ratusan juta rupaih akan masuk ke kas PT tersebut. Maka tidak heran jika diperhatikan didaerah ini telah menjamur Perguruan Tinggi (PT) yang bernaung dibawah lembaga pendidikan swasta. Mereka membuka program study yang sangat menjanjikan dengan menawarkan promosi-promosi kepada lulusan UAN. Tanpa melakukan introsfeksi terhadap kondisi kelayakan yang dimiliki untuk membuat PT. Hal ini sepantasnya bisa menjadi bahan pertimbangan pihak yayasan.
Belum lagi kecurangan yang sering terjadi pada masa perkuliahan, entah factor apa sehingga tidak sedikit pula “suap menyuap” terjadi di lingkungan akademisi ini. Bermasa bodoh dengan aturan dunia maupun akhirat yang penting kantong bisa tebal. Kualitas dan kemampuan bukan lagi alas an untuk tidak cepat menyelesaikan pendidikan dan mendapat gelar sarjana. Dari sinilah jika merujuk kembali pada inti permasalahan sesungguhnya. Bahwa, masalah pengangguran dan kemiskinan yang terjadi di wilayah kita umumnya, semata-mata bukanlah karena dilatarbelakangi banyaknya angka putus sekolah atau sempitnya lapangan pekerjaan melainkan juga disebabkan oleh membanjirnya ‘sarjana karbitan’. Sehingga memang tidak diragukan lagi PT seakan-akan dijadikan ‘lumbung duit’. Pada jelas-jelas hal ini merupakan penyimpangan dalam dunia akedemisi. Siapa yang harus dipertegas dan mempertegas perlu kiranya direnungkan bersama.
Melihat kondisi yang terjadi penulis menarik kesimpulan, bahwa esensi pendidikan sesungguhnya bukan lagi berorieantasi pada usaha memanusiakan manusia. Melainkan hanya akan melahirkan generasi bermentalkan pecundang, dan menjadikan pendidikan sebagai komoditas untuk berbisnis ria. Sehingga ‘toga’ pun juga bisa di beli dengan uang. Padahal dalam konteks pendidikan, yang mulanya merupakan upaya merekomtruksi peradaban manusia dan membentuk masyarakat yang memiliki pemahaman dan kemampuan dalam menajlan kehidupan yang selaras dari masa ke semasa. Dan terpenting lagi mampu menigkatkan martabat bangsa, dan tentuka aparat-aparat yang berada di tingkat tertinggi sebuah perguruan tinggi punya andil yang besar dalam menentukan kebijakan dan memtuskan sebuah putusan yang harus bijaksana dalam mengatasi problematika ini.
1 comment:
postingannya menarik
Post a Comment